Dapur Makan Bergizi Gratis SPPG ke-17 di Baleendah Diresmikan - Dukung UMKM Lokal Dan Sajikan 3.500 porsi



 Baleendah, 8 September 2025 — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) ke-17 resmi diluncurkan hari ini di Baleendah. Peresmian dilakukan oleh Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb dan dihadiri oleh Ketua Kadin Kabupaten Bandung Boni Anggara, perwakilan DPRD Kabupaten Bandung, Danramil, Kapolsek, Camat Baleendah, serta perwakilan Disdagri, Dispakan, Dinkes, dan kepala desa setempat.


 Ketua Kadin Kabupaten Bandung Boni Anggara menjelaskan bahwa program MBG sudah berjalan sejak 1 September lalu dan hari ini merupakan momen peresmian resmi. “Kami sudah mulai dari hari Senin kemarin tanggal 1 September dan hari ini adalah baru peresmian dan launching-nya. Ini untuk yang ke-17 dan insyaallah kami juga masih ada 8 titik yang belum buka, insyaallah akan lebih cepat dibuka,” ujar Boni Anggara.


Boni Anggara memaparkan rencana operasional dan kontribusi program terhadap perekonomian lokal. Secara teknis, satu SPPG memilki 47 karyawan; namun di Baleendah tenaga kerja yang diserap lebih banyak yakni 55 orang sehingga dapat mengangkat UMKM lokal. “Di beberapa supplier khususnya dari daerah-daerah terdekat dulu. Kami punya koperasi yang menaungi beberapa supplier yang akan kami survei ke dapur MBG ini. Kapasitas maksimal bisa 4.000, tapi untuk start awal biasanya 3.500 — ini untuk kurang lebih 17 sekolah dari PAUD, TK, SD, SMP dan SMA,” Ujar Boni Anggara.


Program ini juga memuat target jangka menengah: di kabupaten Bandung ada 361 titik SPPG, namun sejauh ini baru 25 titik yang terealisasi. Boni optimis pihaknya bisa menguasai 50% sektor MBG di Kabupaten Bandung meski menghadapi kendala lahan dan modal. Untuk sementara pendanaan banyak bersumber dari dana pribadi mitra mandiri Kadin, sementara skema pendanaan lain melibatkan Badan Gizi Nasional (BGN), TNI, dan POLRI Dan Pesantren sesuai perannya masing-masing.


Masalah mutu dan higienitas menjadi perhatian utama pengelola. Boni Anggara menegaskan tiga langkah utama pengawasan di dapur MBG: penyeleksian bahan baku, tata cara pengemasan (pemorsian) agar uap tidak menahan sehingga kualitas terjaga, dan kebersihan operasional yang dijaga 24 jam. “Saya pastikan karyawan di dapur MBG ini dalam keadaan sehat walafiat — jangan sampai ada penyakit kulit yang bisa mengontaminasi makanan,” tambahnya.


Ardiansyah, SPPG, menambahkan penjelasan teknis terkait standar fasilitas. Standar minimal bangunan SPPG adalah 350 meter persegi dan harus memiliki gudang kering, gudang basah, ruang pemorsian, serta akses jalan memadai. Untuk Baleendah, Ardiansyah menyebutkan masih ada beberapa penambahan yang diperlukan seperti ruang penyucian, ruang penyimpanan, dan ruang masak, dan pihaknya akan terus memperbaiki sambil berjalan.


Acara peresmian diisi pula dengan kunjungan ke dapur, pengecekan fasilitas penyimpanan dan pengolahan, serta dialog singkat antara pengelola, ahli gizi, dan perwakilan dinas kesehatan. Menurut panitia, menu yang disiapkan SPPG juga diawasi oleh ahli gizi sehingga nilai gizi makanan untuk anak sekolah dapat terpenuhi.


Dampak program diharapkan tidak hanya pada aspek gizi anak sekolah, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi lokal. Dengan melibatkan supplier dan UMKM sekitar Baleendah, pengelolaan MBG berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi pelaku usaha kecil setempat sekaligus meningkatkan akses makanan bergizi bagi siswa.

Lebih baru Lebih lama